PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP RENGGINING SINGKONG BERBAHAN BAKU FERMENTASI BERGARAM CUMI-CUMI (Loligo sp.) DAN KEPITING BAKAU (Scylla sp.)
DOI:
https://doi.org/10.33019/v5zc2x09Keywords:
Mud Crab, Scylla serrata, Scylla tranquebarica, Bangka, fermentation, Squid, Cucumber, Organoleptic, Loligo spAbstract
Kemandirian pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat (Undang-undang no. 18 tahun 2012 tentang Pangan). Potensi hasil perkebunan lokal seperti singkong, dan hasil perikanan tangkap seperti cumi-cumi dan kepiting bakau di Kabupaten Bangka harus dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan kemandirian pangan. Renggining singkong adalah salah satu dari sekian banyak produk pangan yang merupakan kearifan lokal bangsa Indonesia yang dalam pembuatannya dapat dicampurkan dengan bahan pangan ikani seperti cumi-cumi dan kepiting bakau. Cumi-cumi dan kepiting bakau segar difermentasikan dengan garam 10%, 15%, dan 20% dan diperam selama 12 dan 18 hari sebagai perlakuan untuk mendapatkan kombinasi konsentrasi garam dan lama pemeraman terbaik produk renggining singkong ini. Respon panelis uji organoleptik yang diukur meliputi tekstur, rasa dan bau. Analisis data dilakukan dengan uji Friedman pada taraf nyata 0,05. Penelitian ini menunjukkan bahwa cumi-cumi fermentasi dengan 15% garam (b/b) yang disimpan selama 12 hari menghasilkan renggining yang paling disukai oleh konsumen, dengan 47% panelis menyukai baunya, 60% panelis menyukai rasanya, 80% panelis menyukai teksturnya. Renggining singkong berbahan baku kepiting bakau fermentasi yang paling disukai panelis yaitu dengan 15% garam (b/b) yang disimpan selama 12 hari dengan 20% panelis menyukai baunya, 67% panelis menyukai rasanya, 80% panelis dari 15 orang panelis tidak terlatih menyukai teksturnya, dengan pengamatan berulang (repeated measurement).
Downloads
References
Adawyah. 2021. Pembuatan Fermentasi Pengolahan Produk Terasi. Yogyakarta. Numed.
Adibrata. S., Syaputra D, dan Wahidin LO. 2025. Pemberdayaan perempuan pesisir melalui produk renggining kepiting bakau singkong dalam rangka hilirisasi agromaritim. Jurnal Abdi Insani. 12(9) : 4286-4295.
Alkhamdan, M, dan Husain A. 2022. Renggining sebagai pangan tradisional berbasis singkong. Jurnal Panaan Lokal Nusantara.
Cahyono, B. 2019. Aneka Produk Olahan Ubi Kayu. Aneka Ilmu. Cetakan ke-2. Semarang.
Fahmi AS, Hudayati A, dan Sumardianto. 2022. Karakteristik tekstur dan warna bekasam cumi-cumi. Jurnal Teknologi Hasil Perikanan. 15(2): 134-140.
Hanafiah, K.A. (2004). Rancangan Percobaan. Depok: PT Raja Grafindo Persada.
Ketaren, S. 1986. Lemak dan Minyak Pangan. UI Press. Jakarta.
Putiningsih, AA, Surjoseputro S, Setijawati E. 2018. Pengaruh konsentrasi tapioca pada beras varietas Mentik (Oryza sativa var. Mentik) terhadap sifat fisikokimia rice paper. Jurnal Teknologi Pangan dan Gizi. 28-35.
Rahayu, WP., S. Ma’oen., Suliantari, dan S. FArdiaz. 1992. Teknologi Fermentasi Produk Perikanan. PAU Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
Steinkraus, KH. 1983. Industrialization of Indigenous Fermented Food . UN. University, Central Food Technological Research Institute (CFTRI), New York.
Syaputra, D, dan Prasetiyono E. 2017. Analisis proksimat, kadar timbal dan kadar formalin total keripik telur cumi (keritcu). Jurnal Perikanan dan Kelautan, 7(2): 181-190.
Wijayanti F, Sarofa U. 2025. Pengaruh proporsi tepung beras ketan hitam dengan tepung tapioka serta penambahan iota karagenan pada konsistensi fisikokimia dan organoleptik rice paper. Jurnal Sains dan Teknologi Pangan. 10(1): 8087-809.



